Sausan
Sore. Belum senja. Aku bersandar di bibir pintu kamar. Parasku melengkungkan senyum. Jariku gemetaran. Dan, pikiranku kemana-mana. Tak pula sudah, pipiku memerah. Semerah langit yang tak pula sudah meranuminya.
Pria itu, yang cara bicaranya lembut, sungguh membuat hatiku kalang kabut. Betul, aku tak pernah mengira akan jatuh cinta macam anak remaja. Aku sangat yakin itu cinta. Karena aku sudah terlalu sering melihat orang jatuh cinta. Jadi aku tahu persis gejala orang jatuh cinta.
“Kamu perempuan paling cantik sedunia!” aih, suaranya itu, aku sangat suka. Sama persis aku sangat suka menganggap lelaki bermata coklat dengan rahang yang kuat itu sebagai pria paling tampan sedunia. Jadi, ketika pria rahang kuat itu meminangku, aku mau saja, dan merasa nyaman dengan itu semua.
